Kualitas Propolis

Kualitas Propolis

Memilih Propolis Terbaik

Sebagaimana kita ketahui propolis adalah produk dari lebah yang sangat membantu mencegah penyakit bahkan membantu mengatasi berbagai keluhan penyakit. Tetapi jika di pasaran terdapat berbagai merk propolis dengan komposisi yang beraneka ragam bagaimana memilih propolis yang terbaik bagi kesehatan kita.

Tulisan berikut ini berusaha menjawab pertanyaan diatas dengan harapan dapat membantu konsumen memilih propolis yang terbaik bagi kesehatannya. Tulisan ini disusun berdasarkan level pertanyaan  yang harus diajukan konsumen  terdapat berbagai merk propolis yang ditawarkan.

I. LEVEL PERTANYAAN PERTAMA: BAGAIMANA KEAMANAN DAN  KEHALALAN PRODUK PROPOLIS

Pertanyaan mengenai keamanan dan kehalalan produk ini mejadi proses seleksi produk yang paling mendasar. Level pertanyaan keamanan dan kehalalan produk ini lebih didasarkan pada apakah produsen propolis memiliki data-data penelitian terakreditasi bahwa propolis yang dipasarkannya adalah aman dan halal. Data –data tersebut adalah :
1. Penelitian tidak mengandung senyawa pestisida dan  antibiotik

Propolis yang dipasarkan saat ini sebagian besar diambil dari jenis lebah budidaya (Apis Mellifera). Propolis yang diambil dari lebah jenis ini perpeluang besar tercemar pestisida dan antibiotic. terlebih jika berasal dari Benua  Amerika (amerika utara dan amerika selatan), Eropa, dan Asia termasuk Indonesia. Pestisida yang sering  dipakai oleh peternak lebah untuk membasmi hama1) diantaranya; Apistan®, fluvalinate, amitraz dan flumetrhin, Adapun antibiotic yang sering dipakai untuk mengatasi penyakit2) pada koloni lebah adalah; Terramycin®, Tetracycline, Streptomycin, dan chloramphenicol. Penggunaan pestisida dan antibiotic ini akan mengakibatkan residu bahan berbahaya pada produk-produk lebah termasuk dalam propolis. Oleh karena itu merupakan hak dari konsumen untuk menanyakan apakah produk propolis yang dibelinya telah bebas dari residu senyawa pestisida dan antibiotic tersebut. Dan kewajiban bagi produsen untuk memastikan bahwa propolis yang dipasarkannya telah terbebas dari residu pestisida maupun antibiotic. Berdasarkan pengalaman penulis sewaktu mendaftarakan salah satu produk propolis pihak badan POM hanya meminta menganalisa kandungan satu jenis antibiotic saja.

2. Penelitian tidak mengandung senyawa pencemar

Propolis yang dipasarkan saat ini telah mengalami beberapa tahapan dalam proses produksi  mulai dari pemanenan, pemilihan, pengextrakan, pengemasan hingga proses pengiriman  kepada distributor.  Untuk memastikan bahwa seluruh proses tersebut berjalan dengan aman dan tidak meninggalkan bahan pencemar seperti; logam berat (Hg, Pb, Cu dll), bakteri , kaca atau unsur lain yang membahayakan maka konsumen bisa menanyakan kepada produsen mengenai  propolis yang dibelinya apakah sudah terbebas dari bahan-bahan berbahaya tersebut.  Saat ini Badan POM telah cukup baik memeriksa propolis yang didaftarkan untuk dipasarkan dari unsur-unsur berbahaya ini, bahkan telah ditambah dengan keharusan bebas dari  unsur  Psikotropika narkotika dan bahan kimia obat.

3. Penelitian tidak mengandung unsur haram

Secara umum propolis dan proses pengolahan propolis tidak bersinggungan dengan unsur-unsur yang diharamkan kecuali ditambahkan oleh produsen saat proses produksi. Tetapi untuk menjamin produk yang akan dibeli adalah halal maka konsumen bisa menanyakan apakah produsen memiliki sertifikat halal atau memiliki hasil uji laboratorium tidak mengandung unsur haram.

II. LEVEL  PERTANYAAN KEDUA :  BERAPA TOTAL FLAVONOIDS  DALAM PRODUK PROPOLIS

Setelah konsumen memastikan bahwa propolis yang ditawarkan oleh produsen adalah aman proses seleksi tahapan kedua untuk menentukan propolis terbaik adalah menanyakan kepada produsen mengenai kadar Flavonoids dari propolis yang dipasarkannya.
Flavanoid  adalah senyawa pigmen warna pada bagian-bagian tumbuhan yang memiliki peran sangat penting untuk system kekebalan tubuh dan pengobatan. Pada propolis senyawa ini dikumpulkan oleh lebah dari bagian-bagian tanaman seperti;  bunga, batang, daun, akar, buah dan lain-lain.
Banyaknya kandungan flavonoid di dalam propolis secara sederhana akan menggambarkan kualitas dari propolis yang ditawarkan produsen kepada konsumen. Dengan demikian akan menjadi keliru ketika membandingkan tinggi rendahnya kualitas propolis yang ada di pasar hanya pada kandungan extract propolisnya saja.
Penentuan kualitas propolis berdasarkan kandungan propolis atau extract propolis tidak memiliki standar yang disepakati secara internasional. Sebagai contoh dipasaran terdapat propolis cair merk X yang mencantumkan konsentrasi  100% extract propolis. Penyebutan 100% extract ini bukan berarti di dalam kemasan propolis merk X tersebut isinya 100% extract propolis, karena 100% extract propolis pasti berbentuk padatan lengket.  Adapun maksud dari penyebutan 100% extract propolis adalah produsen menyampaikan informasi  bahwa propolis yang dijualnya tersebut hasil dari melarutkan 1 bagian extract propolis ke dalam satu bagian pelarut. Nah dengan metode yang sama terdapat juga produsen yang menyebutkan bahwa propolis yang dijualnya mengandung 50% extract propolis. Angka 50% extract propolis ini menjelaskan bahwa produsen tersebut telah mencampur satu bagian extract propolis ke dalam dua bagian pelarut.
Di pasar juga ditemukan produsen yang menjual propolis dengan kandungan 20% extract propolis atau 15% extract propolis. Yang dimaksud dengan 20% extract ini adalah 20 gram extract propolis dilarutkan ke dalam 100 ml pelarut.  Artinya dalam setiap ml larutan propolis dengan kandungan 20% extract propolis terdapat 200mg extract propolis.
Dengan adanya perbedaan standar penentuan kandungan propolis ini, menyebabkan  propolis yang satu tidak bisa dibandingkan dengan propolis yang lainnya. Disisi lain khasiat propolis ini lebih ditentukan oleh kandungan Flavanoid  di dalam setiap propolis yang dipasarkan.
Adapun kandungan Flavanoid ini biasanya tidak disebutkan oleh produsen secara tertulis di kemasan maupun brosur yang dikeluarkan oleh produsen. Oleh karena itu bagi konsumen yang akan memilih propolis terbaik untuk dikonsumsinya bisa menanyakan langsung ke pedagang propolis atau ke produsen.

III. LEVEL  PERTANYAAN KETIGA: BERAPA KAPASITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROPOLIS

Setelah kita mengetahui kandungan Flavanoid dari propolis yang ditawarkan maka tahap penilaian berikutnya adalah pertanyaan mengenai berapa besar kapasitas anti oksidan dari setiap propolis. Besar kecilnya kapasitas anti oksidan ini menentukan kemampuan propolis dalam proses pengobatan dan penjagaan kesehatan, selain menjadi rujukan untuk penentuan dosis propolis. Semakin besar kapasitas anti oksidant dari propolis ini maka semakin baik dan semakin ekonomis dalam penggunaannya.
Salah satu metode pengujian  aktivitas antioksidan adalah metode DPPH dengan menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidra-zil (DPPH) sebagai radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari senyawa antioksidan dan dinyatakan dalam satuan µg/g AEAC (Ascorbic acid Equivalent Antioxidant  Capacity)
Nilai dari hasil pengujian kapasitas anti oksidan dari propolis ini bisa menggambarkan keragaman jenis flavanoid yang terdapat dalam propolis yang dipasarkan.

IV. LEVEL PERTANYAAN KEEMPAT: SEBERAPA STABILKAH NILAI KAPASITAS ANTIOKSIDAN YANG ADA

Pertanyaan berikutnya untuk mengetahui kualitas propolis adalah seberapa lama nilai dari kapasitas antioksidan propolis bisa bertahan. Hal tersebut penting untuk kita ketahui karena propolis dengan penggunaannya satuan tetesan bukanlah produk yang harus dihabiskan satu kemasan dalam sekali pemakaian. Tetapi biasanya satu kemasan digunakan dalam suatu jangka waktu tertentu.
Dalam kasus ini biasanya produsen hanya akan menyebutkan massa kadaluarsanya saja. Tetapi konsumen bisa mengetahui dengan menanyakan  pelarut yang digunakan, metode extraksinya seperti apa, dan disimpan dalam kemasan seperti apa.
Metode extraksi tanpa proses pemanasan, penggunaan kemasan yang tidak tembus cahaya adalah salah satu jaminan bagi stabilnya nilai kapasitas anti oksidan dari propolis yang kita konsumsi.
Demikian pemaparan terkait dengan proses pemilihan propolis yang terbaik bagi para pengguna propolis ditengah banyaknya merk, dan jenis propolis yang ada di pasaran semoga bermanfaat.

Catatan Kaki
1)    hama yang menyerang koloni lebah diantaranya; Tungau Varoa, Tungau tropilaelaps clareae, dan ngengat lilin (wax moth)
2)  Penyakit yang menyerang koloni  lebah adalah; Bakteri (antara lain American foulbrood  / AFB dan  European foulbrood / EFB ),  Jamur (antara lain Chalkbrood dan Stone brood), virus (antara lain Sacbrood)

perbandingan kualitas propolis

PROPOLIS DIAMOND adalah PROPOLIS TERBAIK. Dari hasil uji laboratorium terhadap jenis propolis dari daerah yang berbeda menunjukkan bahwa PROPOLIS DIAMOND (berasal dari New Zealand dengan ekstrak 20%) mempunyai kandungan total Flavanoids 2,42 % b/v dan asam fenolat 2,55% b/v. Lebih tinggi dibanding Propolis dari daerah lain.

Tabel perbandingan kualitas propolis
Unsur yang diuji Propolis inggris Propolis Australia Propolis New Zealand Propolis New Zealand
50 % raw 15 % ekstrak 15% ekstrak 20% ekstrak
Total Flavanoids 2,5 % b/v 1,05 % b/v 1,89 % b/v 2,42 % b/v
Total Asam fenolat 1,53 % b/v 0,74 % b/v 2,03 % b/v 2,55 % b/v

 

Propolis

Propolis

Propolis is a resinous substance collected by worker honey bees from the growing parts of trees and shrubs (eg., leaf buds, trunk wounds). The bees pack the propolis on their hind legs, and carry it back to their colony, where it is combined with beeswax and used by worker “hive” bees as a sealant and sterilant in the colony nest. The uses take advantage of the antibacterial and antifungal effects of propolis in protecting the colony against disease. Propolis has also been shown to kill Bacillus larvae, the most important bacterial disease of bees (Mlagan and Sulimanovic, 1982).

Propolis is collected by commercial beekeepers, either by scraping the substance from wooden hive parts, or by using specially constructed collection mats. The raw product undergoes secondary processing to remove beeswax and other impurities before being used in a variety of natural health care products (eg., lozenges, tinctures, ointments, toothpaste).

History of Use

Propolis is derived from the Greek works pro (“before”) and polis (“city”), and refers to the observation made by beekeepers in ancient times that bees often built a wall of propolis at the front entrance of their colony (ie, “before the city‘).

Propolis has been used by man since early times, for various purposes, and especially as a medicine because of its antimicrobial properties (Crane, 1997). Ancient Greek texts refer to the substance as a “cure for bruises and suppurating sore”, and in Rome propolis was used by physicians in making poultices. The Hebrew word for propolis is tzori, and the therapeutic properties of tzori are mentioned throughout the Old Testament. Records from 12th century Europe describe medical preparations using propolis for the treatment of mouth and throat infections, and dental caries (Krell, 1996).

One of the non-medicinal uses of propolis is as a varnish, and it has been suggested that the special properties of Stradivarius violins may be partly due to the type of propolis used, although the claim cannot be substantiated.

Production and Consumption

Official records on current world propolis production are not available, although it was estimated that in 1984 approximately 200 tonnes was traded on the world market (Crane, 1990.) Major producers include China, Brazil, USA, Australia and Uruguay.

Japan is a major consumer of propolis. In 1995, the total retail market for propolis products was estimated to be ¥20 million (NZ$282 million) (TRADENZ, 1995). Annual New Zealand consumption is estimated at 9.9 million daily doses.

Composition

At least 180 different compounds have been identified so far in propolis. A list of the major chemicals occurring in propolis is given in the following table (Krell, 1996):

Class of Compound Group of Components Amount
Resins flavonoids, phenolic acids and esters 45-55%
Waxes and Fatty Acids beeswax and plant origin 25-35%
Essential Oils volatiles 10%
Pollen proteins (16 free amino acids >1%),

arginine and proline together 46% of total

5%
Other Organics and Minerals 14 trace minerals, iron and zinc most common;

ketones, lactones, quinones, steroids, benzoic acid, vitamins, sugars

5%

The most important pharmacologically active constituents in propolis are the flavones, flavonols, and flavanones (collectively called flavonoids), and various phenolics and aromatics. Flavonoids play a major role in plant pigmentation.

Flavonoids are thought to account for much of the biological activity in propolis (Grange and Davey, 1990). At least 38 flavonoids have been found in propolis, including galangin, kaempferol, quercetin, pinocembrin, pinostrobin and pinobanksin (Schmidt and Buchmann, 1992). Some of the phenolics include cinnamyl alcohol, cinnamic acid, vanillin, benzyl alcohol, benzoic acid, and caffeic and ferulic acid.

The chemical composition of propolis is highly variable because of the broad range of plants visited by honey bees when collecting the substance. Crane (1990) identifies at least 67 species from which honey bees have been reported to collect propolis material. Important sources include poplars, alders and birches, chestnut, ash, various Prunus and willows. Variations in the beeswax content of raw propolis also affect the chemical composition.

The plant species available in a geographic area determine the kinds and amounts of important compounds present in propolis. A recent study of New Zealand propolis found that the important dihydrofavonoids pinobanksin and pinocembrin made up approximately 70% of the flavonoids in the samples analysed (Markham, et al, 1996). A similar study of Brazilian, Uruguayan and Chinese samples showed dihydroflavonoids to comprise less than 10% in all but one sample, which had 50%.

Studies indicate that the plant resins collected by bees are at least partially altered by bees prior to use in the hive (Cuellar et al, 1990). The presence of sugars also suggest some metabolising by bees (Greenaway et al, 1987).

Human Nutrition

Propolis has little direct nutritive value, apart from the presence of small amounts of proteins, amino acids, minerals and sugars. Vitamins include small amounts of A, B1, B2, B6, C and E (Ghisalberti, 1979).

Dihydroflavonoids, like those found in propolis, have been shown to aid the human body in absorbing Vitamin C (Bors, et al, 1995).

Propolis is used by humans almost solely as a therapeutic. Propolis and a number of its components exhibit a wide variety of biological and pharmacological activities (Schmidt and Buchmann, 1992).

Therapeutic Properties

Antimicrobial Effects

Because of its strong antimicrobial activity, propolis is often known as a “natural antibiotic”. A large number of studies have shown an inhibitory effect on a variety of micro-organisms. The antimicrobial effects are summarised in the following table (Krell, 1996):

 

ORGANISM COMMENT REFERENCE
Bacteria    
Bacillus larvae destroyed Mlagan and Sulimanovic, 1982
B. subtilis destroyed Meresta and Meresta, 1985
Helicobacter pylori inhibited Itoh, et al, 1994
MRSA strong inhibition Grange and Davey, 1990
Mycobacterium tuberculosis Tb Karimova, 1975

Grange and Davey, 1990

Staphylococcus sp. inhibited Chernyak, 1973
Staphylococcus aureus synergistic effect Kedzia and Holderna, 1986

 

ORGANISM COMMENT REFERENCE
Streptococcus sp. inhibited Rojas and Cuetara, 1990
Streptomyces inhibited Simuth et al, 1986
S. sobrinus, mutans, cricetus dental caries Ikeno et al, 1991
Saccharomyces cerevisiae brewer’s yeast Petri et al, 1988
Escherichia coli inhibited Simuth et al, 1986
Salmonella potential treatment Okonenko, 1986 and others
Giardia lambia positive effect Olarin et al, 1989 and others
Bacteroides nodosus reduced foot rot Munoz, 1989
Klebsiella pneumoniae positive effect Dimov et al, 1991
Fungi    
Candida albicans synergistic effect Holderna and Kedzia, 1987

and others

Aspergillus niger positive effect Petri et al, 1988
Botrytis cinerea in vitro fungicidal La Torre et al, 1990
Ascosphaera apis inhibited Ross, 1990
Viruses    
Herpes inhibited in vitro Sosnowski, 1984
Potato virus effective Fahmy and Omar, 1989
Influenza (in mice) reduced mortality Serkedjieva, 1992 and others
Newcastle disease affected virus

reproduction

Maksimova-Todorova et al, 1985

Active components of propolis showing an antibacterial effect include pinocembrin, galangin, caffeic acid and ferulic acid. Antifungal components include pinocembrin, pinobanksin, caffeic acid, benzy ester, sakuranetin and pterostilbene. Anti-viral components include caffeic acid, lutseolin and quercetin (Schmidt and Buchmann, 1992).

Anticancer Effects

Ethanol extracts of propolis have been found to transform human hepatic and uterine carcinoma cells in vitro, and to inhibit their growth (Matsuno, 1992). Substances isolated in propolis which produce this cytotoxic effect are quercetin, caffeic acid, and clerodane diterpendoid. Clerodane diterpendoid shows a selective toxicity to tumour cells.

Propolis was also found to have a cytotoxic and cytostatic effect in vitro against hamster ovary cancer cells and sarcoma-type tumours in mice (Ross, 1990). The substance has also displayed cytotoxicity on cultures of human and animal tumour cells, including breast carcinoma, melanoma, colon, and renal carcinoma cell lines. (Grunberger et al, 1988). The component producing these effects was identified as caffeic acid phenethy ester.

A substance called Artepillin C has been isolated from propolis, and has been shown to have a cytotoxic effect on human gastric carcinoma cells, human lung cancer cells and mouse colon carcinoma cells in vitro (Kimoto, et al, 1995).

Antioxidant Effects

The flavonoids concentrated in propolis are powerful antioxidants, and have been shown to be capable of scavenging free radicals and thereby protecting lipids and other compounds such as Vitamin C from being oxidised or destroyed (Popeskovic, et al, 1980). It is probable that active free radicals, together with other factors, are responsible for cellular ageing and degradation in such conditions as cardiovascular diseases, arthritis, cancer, diabetes, Parkinson disease and Alzheimer disease.

Wound Healing and Tissue Repair Effects

Propolis has been shown to stimulate various enzyme systems, cell metabolism, circulation and collagen formation, as well as improve the healing of burn wounds (Ghisalberti, 1979; Krell, 1996). These effects have been shown to be the result of the presence of arginine in propolis (Gabrys, et al, 1986). Propolis and aloe vera was found to be superior to standard wound treatment products in trials on mice (Sumano-Lopez, et al, 1989).

Anaesthetic Effects

Propolis and some of its components produce anaesthesia, which in some studies has been shown to be 3 times as powerful as cocaine and 52 times that of procaine, when tested in rabbit cornea (Ghisalberti, 1979). The anaesthetic effect has been shown to be produced by pinocembrin, pinostrobin, caffeic acid esters components in propolis (Paintz and Metzner, 1979).

The anaesthetic effect may explain why propolis has been used for centuries in the treatment of sore throats and mouth sores. An anaesthetising ointment for dentistry using propolis has been patented in Europe (Sosnowski, 1984).

Effects on Immune System

Propolis has been shown to stimulate an immune response in mice (Manolova, et al, 1987). More recently, Japanese researchers have shown an extract of propolis to produce a macrophage activation phenomenon related to the immune function in humans (Moriyasu, et al, 1993). Propolis activates immune cells which produce cytokines. The results help to explain the anti-tumour effect produced by propolis.

Propolis has been shown to suppress HIV-1 replication and modulate in vitro immune responses, and, according to the authors, “May constitute a non-toxic natural product with both anti-HIV-1, and immunoregulatory effects” (Harish, et al, 1997).

Cardiovascular Effects

In mice, a concentrated extract of propolis has been shown to reduce blood pressure, produce a sedative effect, and maintain serum glucose (Kedzia et al, 1988). Dihydroflavonoids, as contained in propolis, have been shown to strengthen capillaries (Roger, 1988), and produce antihyperlipidemic activity (Choi, 1991). Propolis has also been shown to protect the liver against alcohol (ethanol) and tetrachloride in rats (Coprean, et al, 1986).

Dental Care Effects

In rats inoculated with S. sobrinus, about half of their fissures were carious, while dental caries were significantly less in rats given water containing propolis extract. No toxic effects of propolis on the growth of rats were observed under experimental conditions in this study (Ikeno, et al, 1991). Propolis has also been shown to be effective as a subsidiary treatment for gingivitis (gum infections) and plaque (Neumann, et al, 1986). A 50% propolis extract was found to antiseptic against pulp gangrene (Gafar, et al, 1986).

Clinical Effects on Humans

A total of 260 steel workers suffering from bronchitis were treated for 24 days by various methods including local and systemic regulation of the immune system and local treatment with an ethanol extract of propolis (EEP) in a physiological salt solution. Best results were obtained with inhalation of the extract, together with propolis tablets (Scheller et al, 1989a). Propolis has also shown positive effects in other otorhinolaryngologic diseases, such as pharyngitis (Doroshenko, 1975), chronic bronchitis (Scheller, et al, 1989a), rhinopharyngolaryngitis (Isakbaev, 1986), pharyngolaryngitis (Lin, et al, 1993), catarrh (Zommer-Urbanska et al, 1987), and rhinitis (Nunex, et al, 1988).

Sixty students were divided into groups to test the effect of propolis on the development of plaque and gingivitis. The results suggest that a propolis preparation can be a useful subsidiary treatment in oral hygiene (Neumann, et al, 1986).

A strong immune deficiency was found in 2 patients with alveolitis fibroticans. Treatment with a combination of the propolis, Esberitox N and calcium-magnesium resulted in good improvements in the state of the immune system and the clinical condition of both patients (Scheller et al, 1989 b).

Clinical applications of propolis (1-10%) in ether or alcohol were effective against 10 superficial fungi and 9 deep-growing fungi. On oral treatment of 160 psoriasis patients with 0.3 g propolis 3 times daily for 3 months, about one-third were cured or greatly improved (Fang Chu, 1978).

Patients (110) infected with ringworm were treated with 50% propolis as a unguent. In 97 patients it was found to produce excellent results (Bolshakova, 1975).

Sixty-four patients with tibial skin ulcers, aged from 23 to 98 years, were treated using propolis tincture in an ointment. The ointment was applied daily to the ulcerated area, which was also treated on the periphery with antibiotic ointments. The treatment lasted for 4-12 weeks. At the end of treatment, 19 of the 64 treated patients exhibited no clinical signs of the condition, 19 an improved condition (Korsun, 1983).

Patients (229) with burns, clean wounds, infected wounds or abscesses/ulcers were treated with a cream containing propolis at two concentrations (2% and 8%). The higher concentration caused local intolerance in 18% of patients by day 9, whereas the lower concentration caused symptoms in only 1.8% of patients by day 16. Burns and wounds treated with the low concentration cream healed in 11 days on average, septic wounds in 17.5 days, 67% of ulcers in 36 days (Morales and Garbarino, 1996).

Patients (126) suffering external otitis, chronic mesotypanic otitis and tympan perforation were treating with propolis solutions (5-10%). A positive therapeutic result was reported in most cases (Matel, et al, 1973). Propolis has also shown positive results in the treatment of acute inflammations of the ear (Palos, et al, 1989).

Patients (90) with cases of vagina and uterus cervix inflammation caused by S. pyogenes were treated with 3% propolis ethanol extract. Over 50% of the cases responded well to this treatment (Zawadzki and Scheller, 1973).

Patients (138) suffering giardiasis were treated with propolis extracts (10-20%). In children, 52% showed a cure at the lower dose. In adults, the cure rate was the same as for tinidazole, an antiprotozoan drug, at the 20% extract, and 60% vrs. 40% for tindazole at a higher concentration (30% propolis extract) (Mirayes, et al, 1988).

The diverse use of propolis in clinical trials shows that its therapeutic efficacy lies mainly in diseases caused by microbial contaminations (Marcucci, 1995).

Adverse Effects

Propolis has been shown not to be toxic to humans or mammals unless very large quantities are administered (Ghisalberti, 1979). Some of its constituent flavones, eg., quercetin, might be mutagenic by the Ames test, but mutagenicityper se for propolis has not been reported (Schmidt and Buchmann, 1992).

Contact dermatitis is a well-documented allergic reaction to propolis (Hausen et al, 1987). Dermatitis can be produced by skin contact with raw propolis, as well as propolis extracts and products containing extracts, and this can cause problems for some beekeepers and other users. Caffeic acid and its derivatives have been identified as the major allergenic agent (Hashimoto, et al, 1988). Dermatitis is relieved once the skin is no longer in contact with the propolis product. It is therefore recommended that with all preparations intended for human use, usage is ceased whenever there is an allergic reaction.

Very few other adverse reactions to propolis have been documented in the literature, and the product is considered generally not to be harmful (Schmidt and Buchmann, 1992).

Commercial Use

Raw propolis is collected by beekeepers and sold in bulk to companies that refine the product and turn it into usable extracts. Most commercial uses of propolis are based on preparations made up from these extracts. Methods include ethanol extraction (EEP), glycol extraction (GEP), aqueous (water) extraction (AEP), oil extraction (OEP), and water-soluble derivatives (WSD). Where solvents are used, reduction or elimination of the solvent is necessary, either by freeze-drying, vacuum distillation, or evaporation. Extraction is used to remove the beeswax which is mixed with the propolis by the bees during use in the hive, as well as other non-active components such as resinous-balsam substances.

Main commercial uses of propolis are as a dietary supplement and therapeutic. Propolis is sold in tablets (singularly, or in combination with other substances such as pollen, royal jelly and non-hive products), and tinctures, and as an ingredient in lozenges, skin creams, shampoos, lipsticks, toothpastes and mouthwashes. Tinctures and lozenges are popular treatment for sore throats, and tinctures are often used to treat cuts, mouth sores and skin rashes. The antioxidant, antimicrobial and antifungal activities of propolis also offer opportunities in food technology. In Japan, the use of propolis is permitted as a preservative in frozen fish (Krell, 1996).

Propolis is a stable product, but should nevertheless be stored in airtight containers in the dark, preferably away from excessive and direct heat. Propolis does not lose much of its antibiotic activity, even when stored for 12 months or longer. Propolis and its extract function as a mild preservative due to their antioxidant and antimicrobial activities and thus may actually prolong the shelf life of some products (Krell, 1996).

Food Safety

Because of its antioxidant and antimicrobial activities, microbial contamination is not considered to be a problem with propolis, either in the raw form, or as extracts.

Concentrations of lead above maximum allowable levels for food products have been found in propolis. Studies have shown that lead levels may be reduced by placement of hives away from areas with heavy air pollution and the use of oil based paints on hive parts (Alcici, 1996). Propolis destined for commercial use should be routinely tested for lead concentration.

Quality Control

No international standards exist for propolis. Official standards exist for propolis in several East European countries. Maximum and minimum limits for certain chemicals are set, but few standardised tests are available to determine the biological activities of various components.

Distributor Propolis Diamond

Distributor Propolis Diamond

Distributor propolis Diamond melayani penjualaan grosir Agen dan eceran propolis diamond ke seluruh indonesia dengan harga jual grosir murah agar lebih terjangkau. Harga Negotiabel ( penambahan rating diskon) sesuai penambahan pembelian produk. Produk-produk terdaftar di BPOM RI, dan Lembaga Sertifikasi Produk . Berikut kami informasikan tentang Propolis Diamond yang diharapkan dapat membantu mengobati berbagai penyakit dan menjadi solusi kesehatan keluarga Anda :

Propolis

Propolis merupakan produk alami yang dihasilkan oleh lebah : Di alam, lebah mengumpulkan getah dari berbagai jenis tanaman, untuk kemudian dicampur dengan enzim yang terdapat pada mulut lebah sehingga dihasilkan propolis. Bagi Lebah propolis berfungsi sebagai zat kekebalan sarang dan tubuh lebah dari bakteri, virus, jamur dan pollutan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian di berbagai negara propolis berfungsi membantu memperbaiki daya tahan tubuh pada manusia.

Daerah Asal

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap literatur ilmiah dan uji laboratorium terhadap berbagai jenis propolis, maka PT Maisya Makmur memutuskan bahwa Propolis yang berasal dari selandia baru memiliki kualitas dan kuantitas yang tinggi.
Sementara itu untuk menjamin adanya efek penyembuhan dari propolis yang diambil dari selandia baru ini, maka dipilihlah propolis dalam bentuk cair dengan ekstrak 20 %.
Dan propolis pilihan PT Maisya Makmur tersebut dipasarkan dengan merek dagang Propolis Diamond dengan kandungan ekstrak propolis yang tinggi dalam setiap botolnya. Sehingga layak disebut  Propolis Diamond .

Keamanan dan Kehalalan

Produk kesehatan yang dipasarkan di wilayah hukum Indonesia harus mendapatkan izin dari badan POM sebagai lembaga pengawas makanan dan obat di indonesia. Dan untuk mendapatkan izin tersebut produk propolis diamond harus diuji terlebih dahulu dilaboratorium yang ditunjuk badan POM.
Adapun hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa Propolis Diamond aman untuk dikonsumsi.

Disisi lain kehalalan produk Propolis Diamond juga penting untuk disampaikan kepada khalayak pengguna hal ini bertujuan agar pengguna merasa aman dan terhindar dari hal-hal yang diharamkan. Oleh karena itu telah dilakukan uji kandungan bahan haram pada propolis diamond di laboratorium terpadu Institut Pertanian Bogor pada bulan April 2006 yang hasilnya sangat menggembirakan bahwa Propolis Diamond dinyatakan tidak terdeteksi mengandung bahan yang diharamkan.

Bahan-bahan yang terkandung dalam propolis sangatlah kompleks, lebih dari 200 komponen telah teridentifikasi.
Secara garis besar propolis terdiri dari :

  • 50% balsam (fraksi polifenol)
  • 30% getah
  • 10% minyak esensial
  • 5% pollen
  • 5% zat organik & anorganik

Kandungan Polifenol yang tinggi di dalam bee propolis berfungsi sebagai :

  • Anti bakteri
  • Anti virus
  • Anti jamur
  • Anti oksidan
  • Anti peradangan
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Manfaat

Setiap penyakit yang muncul sesungguhnya merupakan akumulasi dari sel-sel yang rusak, saat sel yang rusak ini masih sedikit gejala sakit masih belum terlihat, tetapi apabila sel yang rusak ini bertambah banyak maka akan menyebabkan jaringan dan organ tubuh menjadi rusak dan membuat kita menunjukkan gejala sakit.

Propolis Diamond
diharapkan dapat membantu :

  • Proses peremajaan (regenerasi) sel
  • Mempertahankan dan menjaga stamina tubuh
  • Meningkatkan sistem imunitas

Termasuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit sbb:

  • Sakit kepala, migrain, rambut rontok, insomnia, stress akibat tekanan kerja
  • Rambut beruban, ketombe, mata merah, infeksi mata, infeksi hidung, sakit kerongkongan dan tenggorokan
  • Infeksi telinga, gusi berdarah, sakit gigi, tumor otak, stroke, gangguan syaraf dan gagap, sinusitis, katarak, telinga bernanah, epilepsi, dan sebagainya.
  • Kesuburan, keracunan, batu ginjal, ketergantungan narkoba dan rokok, kena bisa hewan berbisa, rabies
  • Kencing manis, kencing tidak lancar, Ketegangan bahu, kegemukkan, rematik, pegal linu, lemah, letih dan lesu
  • Asam urat, TBC, sakit paru-paru, asma, sesak nafas, tuberkulosis (batuk kering), batuk berdahak, demam
  • Masalah jantung, hati, sistem percernaan, masalah hati dan limpa, kolon, perut, ulser, wasir, fibroid, sembelit
  • Sindrom Pra-haid (PMS), sakit punggung, flu , kejang, saraf, tekanan darah tinggi/rendah, diabetes, kanker, sendi
  • Kolesterol, menambah nafsu makan, lupus, dan sebagainya.
  • keriput, masalah kulit, luka kering/mengelupas, bintik-bintik, cacar air, kutu air, bisul, jerawat hitam, eksim, panu, kadas, kurap, luka bedah, luka bakar, herpes, dan sebagainya.

Dosis dan Penggunaan

Pengobatan
Dosis minimal yang efektif
15 tetes sehari dan dibagi menjadi tiga kali minum dan pengobatan dilakukan selama 20–30 hari
Sangat baik dilakukan saat perut dalam keadaan kosong
Kasus membahayakan seperti tetanus dan demam berdarah :
60 tetes dalam sehari dan diberikan selama 1 minggu
Menjaga kesehatan
3 tetes 2 kali sehari

Prinsip Umum dan Cara Pakai

Propolis Diamond adalah Minuman Kesehatan Alami yang bersifat OBAT, di bawah ini adalah aturan umum sebelum minum Propolis Diamond
Untuk diminum :
1. Gunakan air bersuhu kamar/air hangat untuk melarutkan Propolis Diamond
2. Hindari pengunaan Wadah / alat yang terbuat dari logam
3. Teteskan Propolis Diamond sesuai keperluan dan kemudian diaduk secara sempurna
4. Boleh dicampur dengan berbagai jenis minuman/juice
Dapat dikombinasikan dengan obat-obatan dokter 1 jam sebelum atau setelahnya
Untuk di luar tubuh :
Oleskan Propolis Diamond secukupnya pada bagian yang akan diobati
Untuk diteteskan ke mata :
Encerkan 1 tetes Propolis Diamond dengan 1-2 ml air, kemudian diteteskan di mata

Efek Samping

Dr Leonard Mc Kewan menuliskan bahwa selama 2500 tahun penggunaan propolis oleh berbagai masyarakat dari berbagai kebudayaan tidak tercatat adanya efek negatif yang serius dari propolis. Bahkan dokter-dokter di rusia biasa memberikan 9 gram propolis setiap harinya kepada pasien tanpa mengalami kendala. Adapun efek ringan yang sering dirasakan oleh pasien adalah mulut dan tenggorokan terasa kering setelah mengkonsumsi propolis dan kulit yang terasa hangat setelah dioleskan propolis.

Alergi

Pada sebagian orang mungkin muncul alergi terhadap propolis, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada jumlah orang yang alergi terhadap madu.
Untuk mengetahui apakah seseorang alergi terhadap propolis maka dapat dilakukan tes alergi.
Langkah-langkah tes alergi adalah sebagai berikut:
1. Tes alergi pada kulit; dimulai dengan mengoleskan cairan propolis pada bagian kulit sensitif pasien (pada wajah atau lengan bagian bawah) kemudian ditunggu sekitar 30 menit. Apabila pada bagian kulit yang dioleskan terasa gatal dan memerah berarti pasien tersebut alergi terhadap propolis dan disarankan kulit yang diolesi propolis segera dicuci bersih dangan sabun dan dibilas menggunakan air hangat. Adapun pasien tersebut tetap dapat menggunakan propolis hanya untuk diminum dengan dosis 1 tetes dua hari sekali. Jika tidak terdapat rasa gatal dan merah pada bagian kulit yang dioleskan maka lakukan tes alergi kedua.
2. Tes alergi pada mulut dan kerongkongan: campurkan 2-3 tetes propolis pada sedikit air putih kemudian dikumur-kumur dimulut dan diminum, tunggu selama 15 menit. Apabila mulut dan kerongkongan terasa gatal berarti pasien alergi terhadap propolis disarankan pasien minum air hangat banyak-banyak minimal 500 ml. Adapun pasien tersebut tetap dapat menggunakan propolis hanya untuk diminum dengan dosis 1 tetes dua hari sekali. Tetapi jika pasien tidak merasakan gatal pada mulut dan kerongkongan berarti pasien tersebut aman dan bisa langsung diobati dengan propolis.

1 box isi 7 botol @6ml
POM TR : 143 676 691

Dipasarkan oleh PT. Maisya Makmur
Jakarta – Indonesia